Menjajal kopi rasa 'tembakau' di kaki Gunung Sindoro

Menjajal kopi rasa 'tembakau' di kaki Gunung Sindoro
kopi aroma tembakau. 

Hujan deras mendera perjalanan tim Gatsby Jelajah Merdeka 'Koffie Van Java' di wilayah Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Padahal beberapa menit sebelumnya, saat melewati ladang kopi di kawasan Tlahab, cuaca masih bersahabat.

Sempat terbersit kekhawatiran, kondisi kurang kondusif untuk mencicip kopi khas Temanggung yang kesohor. Beruntung, mendekati alun-alun kabupaten, Kamis (26/5) sore, suasana sudah kembali cerah.

Grand New Veloz dan All New Kijang Innova yang dikendarai tim sempat berputar pelan di alun-alun mencari kedai kopi yang jadi sasaran sejak semula. Ternyata lokasinya nyempil di antara ruko-ruko. Ada papan besar bertuliskan 'Kopi Srinthil'.

Rombongan kami masuk, disambut barista yang bertugas sore itu, Ari (31). Mengenakan oblong dan topi hitam, Ari tersenyum lebar menyambut kedatangan tim Jelajah Merdeka.

"Kami di sini hanya menyediakan kopi asli Temanggung," kata Ari dengan nada bangga.

Temanggung lebih dikenal sebagai produsen tembakau terbaik nusantara. Siapa sangka, kehadiran kopi kualitas wahid pun menjadi berkah bagi petani Temanggung.

Ari menyarankan tim menjajal varian Robusta dari Kandangan, Robusta Tlahab, serta Arabika Sumbing. Semuanya dinamai berdasarkan lokasi lahan asal biji kopinya.

Saya justru tertarik mencoba seduhan kopi Lanang Sindoro Arabika. Ada rasa penasaran membandingkan citarasa Arabika wilayah Kedu dengan varietas serupa di Jawa Barat yang lebih dulu kami sambangi.

Tak sampai 10 menit, Ari sudah menyuguhkan secangkir kopi Lanang Sindoro Arabika. Saat dicecap lidah, yang muncul adalah citarasa pahit tapi masih dalam batas toleransi. Sekilas rasanya lebih mirip robusta ketimbang arabika.

Ari punya penjelasan soal keunikan rasa itu. "Kopi Lanang memang akan meninggalkan aftertaste pahit di lidah, karena ditanam tumpang sari di lereng Sindoro dekat tanaman tembakau," ujarnya.

Ternyata, petani di Lereng Gunung Sumbing menanam kopi untuk mengisi celah perkebunan tembakau. Gunanya mencegah erosi, sesuai arahan pemkab setempat. Lambat laun kopi memberi manfaat ekonomi tambahan bagi warga.

"Tapi akhirnya rasa kopi akan terpengaruh tanaman di sekitarnya," kata Ari. Sebagai gambaran, di lereng Sumbing, yang kebun kopinya terpisah dari tanaman lainnya, rasa Arabika-nya lebih asam seperti lazimnya varietas sejenis.

Uniknya, walau memajang nama Srinthil, ternyata kedai yang kami kunjungi tak menyediakan jenis kopi bernama sama. Srinthil dipilih, sesuai nama tembakau termahal dunia yang berasal dari Temanggung.

Setidaknya Ari bangga kedai yang dia kembangkan dua tahun terakhir berhasil menumbuhkan budaya ngopi di kalangan masyarakat Temanggung. "Dulunya warga Temanggung tak wilayahnya punya varian kopi unggulan."

"Sekarang makin banyak anak muda mampir ke kedai dan sengaja memesan kopi lokal," imbuh Ari.

Kami bertujuh lantas bersantai sejenak menikmati suasana sore di Alun-Alun Temanggung. Selanjutnya, Jelajah Merdeka akan menyusuri tradisi ngopi di jantung kebudayaan Jawa: Yogyakarta.